Senin, 27 Oktober 2008

Let's go to Solo, monggo ...

Setelah beberapa lama gak "ketemu", ini oleh2 keluarga kecil kami dari Solo. Iya, 5 hari kemarin, persisnya dari hari Rabu mpe Minggu, saya, suami, Tole dan si bubba, pergi ke kota kecil yang sedang menuju ke MICE. Monggo disimak .....

Sore hari pertama di salah satu kota batik ini kita habiskan dengan jalan2 di sekitar Jl Slamet Riyadi yang merupakan "orchard"nya aka city walknya Solo. Lumayan enak, suhu udara saat itu kurang panas dari Jakarta, apalagi dengan pohon2 besar yang menaungi trotoar membuat suasana lebih terasa adem ayem. Kesibukan warga kota Solo dalam menyambut event internasional ini sudah terlihat di jalan-jalan. Makan malam kami hari itu cukup di hotel tempat kami tinggal, ROEMAHKOE bed and breakfast. Makanannya enak dan harganya OK banget.

Tentang ROEMAHKOE yang terletak di jl Dr Radjiman 501, Kampung Laweyan, dulunya adalah markas BUDI OETOMO dan arsitektur dan perabotannya juga masih asli pastinya bikin saya dan suami yang emang berselera njawa dan jadul, jadi jatuh cinta sama Roemahkoe ini. Kaca patri menghiasi jendela2 di tempat penginapan ini. Kursi, meja, kaca rias, lampu, antai, pintu, jendelanya, betul2 terawat, makanya bisa awet sampai saat ini. Seperangkat alat gamelanpun melengkapi suasana jawa di ROEMAHKOE. Suara gemericik air yang berasal dari beberapa kolam ikan kecil di sini, membuat suasana liburan kami tambah berkesan. Belum lagi suara toke dan kodok yang kadang bisa terdengar "nyanyiannya" di malam hari. Service dan keramahan staf ROEMAHKOE ? Jangan ditanya, mereka dengan senang hati membantu kita, apalagi saya dan suami yang membawa bocah kecil yang tidak bisa diam, sungguh merasakan pelayanan mereka patut diacungkan jempol. Tidak saja mereka membolehkan si musisi kecil kami memainkan gamelan dan berlari di lorong2 ROEMAHKOE, mereka juga mengajarkan ke Tole beberapa kata dalam bahasa Jawa, top gak tuh ! Sarapannya memang tidak sperti di hotel2 yang menyediakan beberapa macam makanan sekaligus, melainkan 1 malam sebelumnya, mereka memberikan 4 pilihan menu sarapan kepada tamu. Dan di sore hari, mereka menyuguhkan minuman teh atau kopi beserta nyami'an, seperti serabi solo, roti gulung pisang, pisang goreng dengan taburan gula halus dan bubuk kayu manis yang tentunya buatan mereka sendiri.




Hari kedua di pagi hari, kita pergi ke Pasar Klewer. Tujuannya ? dah pasti beli oleh2 n tuk diri sendiri. En ada satu toko yang bikin saya seneng banget, apa itu ? Toko pengantin yang pastinya menjual semua pernak pernik pengantin dan penari. langsung deh ngeborong di sini, gak cuman tuk saya aa sih tujuannya, tapi tuk temen2 penari di Paris juga. So kalo ada kesempatan ke Paris kan bisa dijual tuh, harganya sih lebih murah dari di jatinegara yah. Lis, beli nih kalung, anting n gelang, bagus2 lho ...... hehehehehhe Di Pasar Klewer ini para penjualnya juga sangat sopan dan baik, tidak ada yang memaksa n harga yang diberikan juga tetap harga lokal walaupun mereka jelas2 melihat warna kulit suami saya yang jauh berbeda dengan warna kulit mereka. Mas kecil ? 5 menit setelah sampai di pasar, dengan diapun tidur di dalam baby strollernya dengan dikipas-kipas sama susternya.


Dari pasar, setelah muter2 sekitar 2 jam, rumah makan Adem Ayem di jl Slamet Riyadi, jadi tujuan berikutnya guna memenuhi panggilan cacing2 di perut kami. Makanannya, lumayan deh, timlonya cukup enak, tapi kok gak pake daun sedap malam ya ? gak ngerti deh, yang penting rasanya enak. Tolepun makan gak susah, dia mau makan timlonya juga. Selesai makan, pulang, istirahat sebentar trus lanjut lagi jalan2 ke rumah2 batik yang banyak ditemui di belakang ROEMAHKOE. Saya dan suami jatuh cinta dengan suasana kampung batik ini. Masih banyak rumah2 kuno yang terawat atau juga rumah2 khas Jawa yang tertata sederhana dan apik, mengingatkan saya pada rumah eyang saya. Pagar rumah2 bergaya tempo doeloe ini adalah tembok tinggi (sekitar 2m) dan memiliki pintu pagar yang besar sekalian atau yang besar tetapi terbagi 2 (atas dan bawah). Di tembok rumah2 tersebut juga kadang dukir dengan motif batik yang menunjukkan bahwa itu memang kampung batik. Kampung ini bersih sekali dan cukup hijau. Air di got seringnya terlihat biru tua tapi tidak berbau dan ternyata memang pemerintah lokal cukup baik dalam hal menangani limbah yang dihasilkan oleh pembuatan batik. Kami singgah di beberapa rumah batik, tapi sayangnya, para pembatik sudah pulang, hanya di rumah batik terakhir, Toko Cempaka, yang masih ada 1 bapak pembatik yang sedang mencap di atas kain mori. Cukup puas berada di toko ini, yang empunya menjelaskan makna warna2 dalam filsafah batik Solo. sebuah kemeja dan sebuah syal serat nanaspun menambah muatan koper kami. Ngapain Tole ? Mas kecil ini tidur dengan pulas di baby strollernya, wong anginnya semilir semilir membuat mata jadi berat.


Makan malam kali ini, rombongan kecil kami ini memilih GALABO (Gladak Langen Bogan) yang terletak di samping pusat grosir Solo. Apa sih GALABO itu ? Jadi itu adalah tempat makan kaki lima (yang merupakan jalan raya yang kalau malam hari ditutup) yang menawarkan 50 kedai yang menjual makanan khas Solo, sperti tengkleng, timlo, nasi liwet, tahu kupat, dll. Seperti warung roti bakar Edi yang di belakang Al Azhar deh prinsipnya. Gimana rasanya ? Tahu kupat dan ayam prestonya cukup enak.

Jum'at, rencananya sih hari ini mau ke Tawangmangu dan candi Sethu. Tapi berhubung malam sebelumnya hujan deras dan dini harinya si bumil mendapat kontraksi palsu pertama, jadi rencananya gagal, tujuan dialihkan ke dalam kota Solo aja. Iya, lagi asik2 tidur tiba2 terasa mules dan kenceng di perut bagian bawah dan punggung bawah belakang selama 15 menitan deh. Zaman hamilnya Aurele, kontraksi pertama itu saya rasakan 7 minggu sebelum Tole lahir dan menghasilkan 2cm pembukaan. Smoga yang ini gak "menghasilkan" apa2 deh ! Hari ini jalan2 ke kraton Mangkunegaraan dan dilanjutkan ke Taman Sriwedari. Mas kecilpun seneng banget karna dia bisa lari2 di pendopo yang konon terbesar di Indonesia dan bisa liat seperangkat gamelan komplit.


Acara isi perut dilanjutkan ke daerah Triwindu yang terkenal dengan toko2 buku bekas dan barang antik, tapi lagi ada renovasi jadi banyak pedagang2 yang pindah tempat ke daerah lain. Aurele gak begitu nafsu makan makanan utama, untung tetep semangat minum jus buah yang sudah dipesan tanpa gula dan nenennya juga semangat 45. Tujuan berikutnya adalah ke Museum Danar Hadi yang juga merupakan pabrik dan butik, jadi kalo pegawainya itu bilang, "one stop shopping bu". Museumnya tertata apik dan koleksinya juga bagus. Dari jamannya Belanda, Cina dan Jepun, India, bisa ditemukan di sini. Suami dan saya yang memang pecinta kain mpe ilernya ngeces-ngeces ngeliat hasil karya anak bangsa Indonesia ini. Aurele ? Sami mawon dong, dia bilang, "Wwwwwwowww, maman, kain, nali (nari)" dengan muka yang amat antusias (heheh ketauan banget deh anaknya siapa). Gak lama abis terkagum-kagum si mas kecil yang ganteng inipun ngerengek karna ngantuk, akhirnya si mas kecil muter2 di bagian pertama museum ini dengan si susternya sementara saya n pacar merangkap suami, lanjut melihat koleksi yang lain. Di sini, saya dan suami dapat kesempatan tuk liat proses pembuatan batik langsung di pabriknya. Dulu, parik Danar Hadi terletak di jl Dr Radjiman di kawasan kampung laweyan. Buat suami saya, ini pemandangan yang luar biasa dan buat saya ? Meski ini bukan pertama kalinya saya ke Solo, namun tetap saja buat saya kota ini selalu menarik untuk dikunjungi. Jalan2 di Danar hadi ini kami akhiri dengan beristirahat sekalian berbelanja di butiknya. Taplak meja idaman akhirnya didapet di sini, hehehe ....

Kembali ke hotel dan istirahat sambil menyeruput teh hanget ditemani oleh serabi pisang yang masih panas, membuat kami bertenaga kembali untuk meneruskan acara jalan2 sore di Kampung Laweyan. Di tengah jalan, kedai yang menjual apem Solo masih buka walaupun cuman ada 6 apem yang tersisa, menuruti hawa nafsu si bumil, dibelilah 4 apem klasik yang rasanya uenak tenan, wong Tole aja suka kok, minta nambah lagi, hehehhee Tujuan kami sore itu adalah Batik Gunawan yang gerainya bisa dijumpai di Pasaraya Grande Blok M. Batik Gunawan ini cenderung ke arah batik modern, baik dalam proses pemilihan warna dan motif batik yang tergolong baru. 1 blus tuk bumil, 1 blus mertua dan 1 kemeja tuk teman suami kami bawa pulang dengan suka cita.
Makan malam di ROEMAHKOE saja, mengingat si mas kecil kliatan dah ngantuk n bumil juga mau kondisi badan biar tetep fit.

Sabtu ini, acara jalan2 difokuskan ke pasar Triwindu tuk liat2 ke toko antik. Perburuan tidak sia2, sebuah gantungan kain dan alat pencap batik bis akami dapatkan dengan harga menarik. Sayangnya, si mas besar tidak begitu suka dengan lampu tempel dari perunggu berbentuk gunungan yang saya taksir. Sementara si Tole asik liat barang2 yang lain di depan toko yang notabene di pinggir jalan sambil "main" dengan cucu si empunya toko. Anteng plenteng deh si anak ganteng ini, tambah sayang sama kamu deh nak ! Dari sana, perjalanan kita lanjut ke Pasar Klewer lagi cos mo cari oleh2 tuk teman, tapi sayangnya gak ada n pasar agak penuh , kurang OK suasananya tuk wiken ama anak kecil sambil bawa baby stroller. So kami putusin tuk cabut dari situ n langsung ke Warung Pecel Solo yang ada di jl Supomo. Pecelnya uenak tenan dan suasananya asik bener, plus diiringin dengan iringan lagu seorang ibu yang diiringi dengan kecapi dan gendang di pintu masuk, membuat acara makan siang kami jadi special.


Di sini Tole mulai keliatan eneg makan nasi selama 3 hari berturut-turut, walhasil cuman jus alpukat yang masuk ke dalam perutnya dia. Gak papahlah, toh alpukat juga berat. Sambil jalan bisa ditawarin roti. Pecel di sini, bisa ditemani dengan lontong, nasi putih atau nasi merah. Bumbu kacangnyapun ada 2 macem. Sayurannya ? Ada kenikir, daun pepaya, trambah, daun apalagi yah, lupa, pokoknya ada 5 ajah ! 1 gelas es kunir asem, 1 gelas jus alpukat, 1 piring nasi pecel dan sepiring berdua hidangan penutup (campuran, tiwul, gawuk, ongol2, getuk, ada 1 lagi yang saya gak tau namanya), meluncur dengan lancar ke dalam lambung saya.

Dari sana, balik ke tempat penginapan dan istirahat sambil mencicipi fasilitas pijit di sana, saya n suami sepakat ambil perawatan Foot Spa. Enak banget deh rasanya dipijit kakinya setelah banyak jalan kaki. Sementara mas kecil sibuk mempersiapkan konser gamelannya. Ya, kalo di ROEMAHKOE, tiap sabtu malam ada pertunjukan gamelan. N pangeran kecil kami sudah tidak sabar bergabung dengan tim gamelan ROEMAHKOE itu, hehehe ....

Hari terakhir. Minggu pagi sudah dijadwalkan untuk melihat latihan tari di Kraton Kasunanan jam 10 pagi. Aurele ditinggal sama susternya (sambil diberi wejangan si susternya, heheh) soale sewaktu kita mo berangkat, si pangeran kecil ini minta tidur sendiri, so akhirnya didorong2 sama susternya di baby stroller di ruang tamu di kamar kita. Bumil dan si mas besar bisa pacaran lagi nih aka jalan2 berdua aja, hehehe nyampe di sana, kita keliling di bagian belakang cari tempat dimana para penari latihan. Setelah nyari2 gak ketemu, akhrinya numpang tanya sama si mbak2 penjaga loket dan dari beliaulah didapat informasi bahwa latihan tari diadakan di pendopo depan. Berputarlah kita ke sana, dan ternyata, sudah telat, mereka baru saja meninggalkan kraton karna latihan sudah selesai. Emang sih kliatan salah satu penarinya yang masih memakai kain panjang dan sampur bersiap-siap naek motor untuk pulang. So, langsung puter kendali deh, acara dilanjutin ke Jl Slamet Riyadi, kebetulan hari itu ada bazaar di sepanjang "orchard roadnya" kota Surakarta ini. Dan tebak apa yang saya dapat ? 2 buah kalung idaman dan sepasang anting yang terbuat dari tembaga yang dibakar. Si empunya kios ini namanya mbak Abel yang emang berkreasi sendiri dan menerima pesanan. Sayang blus batik yang saya taksir ukuranya cuman 1, S ajah, dijamin gak cukup dengan kondisi saya yang akan menyusui setelah melahirkan nanti. Ya wis, bukan rejeki ......


Kesimpulan dari jalan2 keluarga kami kali ini : ASIK dan SEMUANYA PUAS. Fasilitas transportasi umum, seperti taksi misalnya, walaupun tidak terlalu mudah didapat (tergantung daerahnya), tapi pelayanannya bagus, supirnya baik dan sopan2. Tole dapet kesempatan belajar lagu2 anak dalam bahasa Jawa lagi, kayak "lir ilir" dan "gundul gundul pacul". Tole senang, dan bisa tidur bagus even bangun tidurnya selama di sana jadi 1 jam lebih cepat. Ada beberapa kata baru yang dia dapat di sini, kayak : tasi (taksi), koket (toke'), cica' (cicak), kasy (cache - bhs perancis, artinya ngumpet), jingjing (rebab), lompat, apalagi yah ? Yang jelas si Tole seneng banget ama taksi n pengennya manggilin or naek taksi terus. Papa n mamannya Tole ? Senang banget dong, apalagi mamannya, belum tentu dalam waktu dekat bisa jalan2 lagi, bentar lagi kan udah ada larangan terbang. Di bandara Jkt atau Solo aja sebetulnya sudah ditanyain surat keterangan dokter tentang kehamilan sementara si bumil ini baru tahu bahwa kalau bepergian dengan pesawat, even di bawah 7 bulan kehamilan, tetap harus menunjukkan surat itu. Makanya rencana beli oleh2 cemilan di bandara Adi Sumarno gagal total karena waktunya sudah mepet tuk ngurusin si surat keterangan dokter itu. mmm pelajaran deh tuk lain kali ! Kapan lagi yah jalan2 ?

Inilah gayanya si pangeran kecil waktu berkolaborasi dengan para seniornya sementara papa mamannya makan malam.

10 komentar:

debbie mengatakan...

adu aryyyyyyy.....jalan2 mu kali ini super bikin ngences deh....
gelo....gw blm pernah ke solo segitu kumplit nya
beberapa kali ke solo, tp yang selintasan melulu, soale gak fully rekreasi, di sambi2 gitu
seneng yah bisa liat2 sampe ke kampung2 gitu....kangen sama timlo...hiksss.....:(

jangan kecapean lho....hati2 dengan bubba nya ya..

dooohhh....itu foto nya bagus2 yang rumah2 antik itu...hiks....

lesca mengatakan...

seruuu....
dan fotonya keren2 ry!
jadi ga sabar pengen buru2 ke solo juga :D

seingetku jaman aku hamil dulu, ngisi suratnya udah di atas pesawat. itu juga cuman nanda tangan surat yang udah disiapin sama mereka.

btw, udah ketauan bubba nya tole atau genduk, jeng? ;-)

Mama Azka mengatakan...

Waaa..ternyata abis liburan ke Solo ya, hebat nih bumil yg satu ini, tetep aktif dan jalan2 terooos..hehehe....seru banget deh mpe lengkap banget, bisa dijadiin referensi nih kalo kapan2 aku ke Solo (hihihi..blm pernah ke Solo).

Azka malah ga kemana2 nih dah 2 bulan di rumah mulu, kecian tu anak ga diajakin jalan2. Malah Papanya yg jalan2 muluw keluar kota.

Lisa mengatakan...

Mbacanya serasa menikmati ademnya solo ri. Gue ngga begitu kenal solo, pernah sekali aja ke sana wkt msh kuliah. Boleh2, pernik2nya dipertunjukan nanti.

widie mengatakan...

Asyiiiiiiikkkk yg habis dr Solo emang tuh kota bikin kita kangen dan pengen balik dan kembali, yg jelas makanannya enak2 ada nasi liwet lesehan, trus timlo huaaahh aku jd ngiler nehhh heheh

eh bumil tetep semngat kaannnn..harus dong jgn capek2 yaaaa itu kok masih gendong Tole seehh...??

mama icel mengatakan...

komplit,plit,plit..top marko top deh liputannya,...aku juga suka yg serba etnik dan tradisional kayaknya kapan2 perlu tuh rekreasi kesna padahal gak jauh dari rumah kalau pas cuti tapi kok ya gak kepikiran..tks ya mam

Hanif and Raihan mengatakan...

Asik bener nich jalan2nya.... hotelnya asik yach, kayak nostalgia gitu... foto2nya juga sip banget dech...
Emang harus dimanfaatin bulan2 kehamilan seperti sekarang ini. Kalo dah lahiran, pasti lebih repot dech kalo mau jalan2 jauh....
Tapi jangan capek2 bngt yaa....

Irma-MamaVian mengatakan...

Jalan melulu nih ibu hamil, masih kuat jalan jauh ya Ry?

Fotonya keren2 dan antik2 jadi pengen ke Solo...

Cicha Mamanya Shaina mengatakan...

wa aku lom pernah ke Solo nih.. seru ya ngeliat foto2nya berasa kesana sendiri.. hehe

soal surat dokter, setauku sih memang harus pake kalau udah 'ndut' perutanya. Btw, difoto perutnya udah buncit yahhh terakhir ketemu belom terlalu keliatan hehe.. kapan ni kopdaraan lagi ?

Febrie mengatakan...

wahh ke pasar klewer .. asyik tuh .. dah lama gak pulang ke solo nih ..